Makna Tradisi Mangain Sebelum Acara Pernikahan pada Masyarakat Batak Toba di Batusangkar Kabupaten Tanah Datar

Main Article Content

Agnes Herlina Sinaga
Sarbaitinil Sarbaitinil
Nilda Elfemi

Abstract

Tradisi Mangain adalah bagian tradisi masyarakat Suku Batak yang dilakukan untuk mengangkat anak dan memberikan Marga. Tradisi Mangain masyarakat Batak Toba di Batusangkar Kabupaten Tanah Datar dalam tradisi Mangain. Adat tradisi Mangain ini dibuat dulu adatnya atau resepsi sebelum acara pernikahan  yang disebut resepsi pengangkatan anak, tidak bisa pernikahan dilakukan sebelum ada marganya di dalam pernikahan adat Batak ini, sehingga harus sah marganya dan barulah bisa dilakukan acara tradisi Mangain ini menuju pernikahan dengan menentukan orang tua angkatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis Makna Tradisi Mangain Sebelum Acara Pernikahan Pada Masyarakat Batak Toba Di Batusangkar Kabupaten Tanah Datar. Untuk menjelaskan permasalahan penelitian ini, teori yang digunakan adalah teori Herbert Blumer tentang Interaksionalisme Simbolik. Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dan tipe penelitian deskriptif. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat batak toba yang melaksanakan tradisi Mangain, tokoh agama, masyarakat batak toba di Batusangkar yang menghadiri tradisi Mangain. metode pengumpulan dilakukan dengan tiga cara yaitu: observasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Analisis data yang digunakan data iteraktif dari Miles Huberman.  Hasil penelitian ini adalah menunjukan bahwa permasalahan yang ditemukan dilapangan terkait dengan makna tradisi Mangain sebelum acara pernikahan pada masyarakat Batak Toba Di Batusangkar Kabupaten Tanah Datar, secara umum tradisi Mangain ini adalah tradisi yang sudah ada secara turun-temurun pada masyarakat suku Batak yang dilakukan untuk mengangkat anak dan memberikan marga, termaksud masyarakat Batak yang ada di perantauan diluar Sumatera Utara, dalam hal ini proses tradisi Mangain ini dilaksanakan satu sampai dua Minggu sebelum acara Pernikahan adat Batak. Tujuan dari tradisi Mangain ini adalah untuk mempererat interaksi-interaksi masyarakat yang sempurna agar ikatan keluarga tidak terputus.  Prosesi dalam tradisi Mangain yaitu adanya musyawarah antara kedua keluarga terkait proses tradisi Mangain, makan bersama ditampilkan adanya nasi putih, air mineral, ikan mas, ulos, dan uang yang memiliki makna di dalam tradisi Mangain, pemberian ulos kepada pengantin yang mengikuti tradisi Mangain, penyerahan makanan adat kepada saudara laki-laki perempuan (Hula-hula), pemberian uang (Upa Panggabei), dan penutup tradisi Mangain dengan kebaktian singkat oleh saudara laki-laki perempuan (Hula-hula).

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Sinaga, A. H. ., Sarbaitinil, S., & Elfemi, N. . (2021). Makna Tradisi Mangain Sebelum Acara Pernikahan pada Masyarakat Batak Toba di Batusangkar Kabupaten Tanah Datar. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(3), 6103–6111. Retrieved from https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/1917
Section
Articles of Research

References

I Putu Wijana, D. dan M. R. (2008). Semantik Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.

Moleong. (2013). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

Nuraeni, Heny Gustini dan Alfan, M. (2012). Studi Budaya Indonesia. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Poerwadarminta. (1976). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tondi Hariara Pane. (2019). Komunikasi Tradisi Mangain Marga Dalam Pernikahan Batak Tapanuli Selatan di Pekanbaru Jom Fisip Vol. 7: Edisi II Juli-Desember 2019. 7(Edisi II Juli-Desember 2019).

Yudista Meli Henani. (2019). Mitos Larangan Pernikahan Antara Sesama Marga (Studi Kasus Kampung Lipat Kajang Kecamatan Simpang Kanan Kabupaten Aceh Singkil. Repository.ar-Raniry.ac.id, 16.2.