Pengalaman Komunikasi Pembimbing Kemasyarakatan dengan Klien Pemasyarakatan dalam Proses Bimbingan pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi

Main Article Content

Nike Nofianti
Elva Ronaning Roem

Abstract

Pengulangan tindak pidana atau yang biasa dikenal dengan istilah Residivis semakin marak terjadi. Hal ini menjadi suatu perhatian khusus bagi aparat penegak hukum seperti Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan serta Pemasyarakatan. Pemasyarakatan yang menjadi sorotan disini adalah Pembimbing Kemasyarakatan dari Balai Pemasyarakatan. PK merupakan petugas pemasyarakatan yang melaksanakan tugas pembimbingan klien pemasyarakatan disebut sebagai Pembimbing Kemasyarakatan (PK). Selama pelaksanaan proses pembimbingan, komunikasi berperan penting terhadap keberhasilan suatu bimbingan. Pengalaman komunikasi PK dengan klien pemasyarakatan dalam proses bimbingan merupakan pengalaman yang layak diteliti. Adapun tujuan penelitian adalah bagaimana komunikasi Pembimbing Kemasyarakatan (PK) dengan klien pemasyarakatan selama pelaksanaan proses pembimbingan di Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi.


Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi Edmund Husserl. Proses pembimbingan yang dilakukan kepada klien pemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi memiliki tujuan salah satunya agar klien pemasyarakatan dapat kembali ketengah-tengah masyarakat dengan baik serta tidak mengulangi tindak pidana. Komunikasi yang dibangun dalam proses bimbingan adalah komunikasi interpersonal. Keberhasilan dalam membentuk komunikasi interpersonal terdapat pada komunikator dalam hal ini adalah PK. PK harus mampu membangun kedekatan agar proses bimbingan berjalan dengan baik sehingga dapat membawa perubahan terhadap klien pemasyarakatan sehingga tidak melakukan tindak pidana lagi. Oleh sebab itu diperlukan peningkatan kualitas PK, sehingga dapat memberikan pengalaman yang terbaik juga untuk klien pemasyarakatan yang memerlukan bimbingan. Sebab sumber daya manusia PK yang berkualitas akan menentukan kepada keberhasilan klien pemasyarakatan untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

How to Cite
Nofianti, N., & Roem, E. R. . (2021). Pengalaman Komunikasi Pembimbing Kemasyarakatan dengan Klien Pemasyarakatan dalam Proses Bimbingan pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Bukittinggi . Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(3), 6373–6378. https://doi.org/10.31004/jptam.v5i3.1951
Section
Articles of Research

References

Asih, I. D. (2015). Fenomenologi Husserl: Sebuah Cara “Kembali Ke Fenomena.” Jurnal Keperawatan Indonesia, 9(2), 75–80. https://doi.org/10.7454/jki.v9i2.164

Balitbang Hukum. 2018. Pelaksanaan Pembinaan Jabatan Fungsional Tertentu Pembimbing Kemasyarakatan (Jakarta: Balitbangkumham Pres),https://ebook.balitbangham.go.id/category/sumber-daya-manusia.

Devito, Joseph. 1997. Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: Professional Books.

Enjang, AS. 2009. Komunikasi Konseling. Bandung: Nuansa.

Harliyanti, Harliyanti, Ruslan Renggong, and Abd. Hamid Haris. 2021. “Efektivitas Peran Pembimbing Kemasyarakatan Dalam Penerapan Restorative Justice Terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana Pada Balai Pemasyarakatan Kelas I Makassar.” Indonesian Journal of Legality of Law 2, no. 2: 88–93. https://doi.org/10.35965/ijlf.v2i2.420.

Kementerian Hukum dan HAM R.I, Revitalisasi Penyelenggaraan Pemasyarakatan (Indonesia, 2018)

Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi : Fenomenologi. Bandung: Widya Padjajaran.

Mulyana, Deddy. (2008). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja

Patton, M.Q. 2002. Qualitative Research & Evaluation Methods.Third Edition. California: Sage Publications.

Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan.

Rakhmad, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tubbs, Stewart L & Sylvia Moss, Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi, Editor Deddy Mulyana.2005. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.